Dari Senayan ke Ruang Kuliah

Tidak ada voting

ANGGOTA DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), meluncurkan dua buku terbaru yang merekam perjalanan panjangnya di dunia politik, hukum, ketatanegaraan hingga pendidikan. Dua buku tersebut berjudul “Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen” yang merupakan buku karya Bamsoet ke-38 dengan Prolog dan Epilog dari Prof Dr Jimly Asshiddiqie serta buku “Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran” karya jurnalis senior wartawan Kompas J. Osdar.

Dua buku tersebut memiliki nilai penting karena menempatkan pengalaman politik dan perspektif akademik dalam satu  ruang bahasan. Buku karya Bamsoet berangkat dari pengalaman langsung sebagai legislator sekaligus dosen, sementara karya J. Osdar melihat bagaimana pengalaman panjang di parlemen, organisasi, dunia usaha, dan kepemimpinan lembaga negara kemudian ditransformasikan menjadi pengabdian melalui pendidikan.

Kedua buku ini menegaskan bahwa perjalanan politik dan akademik dapat saling memperkaya. Parlemen menyediakan pengalaman empiris tentang bagaimana keputusan negara dibuat, sedangkan kampus menyediakan ruang untuk menguji pengalaman tersebut melalui teori, riset, dan pemikiran kritis.

“Menulis buku bagi saya bukan sekadar catatan perjalanan pribadi. Buku menjadi cara untuk mendokumentasikan gagasan, membuka ruang perdebatan, dan mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya,” ujar Bamsoet saat peluncuran buku “Politik Hukum Konstitusi: Menjembatani Teori Akademis dan Realitas Parlemen” dan “Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran”, di Parle Senayan Jakarta, Kamis malam (10/9/2026).

Hadir antara lain Ketua dan Wakil Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin dan Yorrys Raweyai, Menko Polkam Djamari Chaniago, Menko Kumham Imipas Yusril Ihza Mahendra, Menko Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Yandri Susanto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Menteri Perumahan dan Pemukiman Maruarar Sirait, Wakil Ketua KPK Johanis Tanak, Wakil Jaksa Agung Asep Nana Mulyana, KASAD Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus Aris Marsudiyanto, Wakabareskrim POLRI Nunung Syaifuddin, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Utusan Khusus Presiden Bidang Pemuda Raffi Ahmad, Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Andika Perkasa, Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Mantan Menkumham Yasona Laoly, Mantan Menteri Perikanan dan Kelautan Sharif Cicip Sutardjo, Mantan Ketua DPR RI Setya Novanto, Mantan Wakapolri Komjen Pol. (Purn.) Nanan Soekarna, Mantan Menteri Tenaga Kerja Bomer Pasaribu, Mantan Menteri Perumahan dan Pemukiman Theo L. Sambuaga, serta Ketua Umum FKPPI Pontjo Sutowo dan mantan Kepala BNPT Boy Rafli Amar.

Hadir pula anggota DPR Robert Kardinal, Ahmad Basarah, Aboe Bakar Al Habsyi, Dave Laksono, Abraham Sridjaja, Aria Bima, Melly Goeslaw, Anto Hoed, Juniver Girsang, Hariman Siregar, Akbar Faisal, E.E. Mangindaan, Murad Ismail, Priyo Budi Santoso, Agus Hermanto, James Riady, Jerry Hermawan Lo, Raja Sapta Oktohari dan Bambang Sutrisno.

Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini menjelaskan, buku “Dari Senayan ke Ruang Kuliah: Jejak Kepemimpinan dan Pemikiran” karya J. Osdar merekam transformasi perjalanan dirinya dari seorang jurnalis, pengusaha, aktivis organisasi, politisi, pimpinan lembaga negara, hingga pendidik.

Jika perjalanan Bamsoet sebagai anggota DPR RI, Ketua DPR RI, dan Ketua MPR RI telah banyak mendapat sorotan publik, buku J. Osdar mencoba melihat sisi lain dari perjalanan tersebut, yakni bagaimana pengalaman politik dan kepemimpinan kemudian dibawa ke lingkungan akademik.

Perjalanan tersebut tercermin dari keterlibatan Bamsoet dalam dunia pendidikan tinggi, termasuk kiprahnya sebagai pendiri Universitas Perwira Purbalingga (Unperba) serta dosen pascasarjana disejumlah universitas, yakni Universitas Borobudur, Universitas Pertahanan, Universitas Terbuka dan Universitas Jayabaya.

“Memasuki dunia pendidikan dapat sejalan dengan pengabdian di dunia politik. Pengalaman yang diperoleh dari parlemen, organisasi, dunia usaha, dan kehidupan berbangsa dapat menjadi bahan pembelajaran bagi mahasiswa,” jelas Bamsoet.

Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat dan Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menilai, pendidikan memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi yang mampu memahami persoalan bangsa secara utuh. Mahasiswa hukum, misalnya, perlu memahami undang-undang dan teori ketatanegaraan, tetapi juga harus mengerti bagaimana hukum bekerja ketika berhadapan dengan kepentingan politik, ekonomi, masyarakat, teknologi, dan perubahan global.

“Karena itu, pengalaman praktis perlu dihadirkan ke dalam ruang akademik. Sebaliknya, dunia politik juga membutuhkan masukan akademik agar setiap kebijakan memiliki pijakan teoritis, konstitusional, dan argumentasi yang kuat,” pungkas Bamsoet.

Peluncuran dua buku terbaru ini menambah panjang hasil karya Bamsoet dibidang literasi. Dari buku pertamanya, Rahasia Sukses dan Biografi Pengusaha Indonesia pada 1988, hingga karya terbarunya pada 2026, tema yang diangkat terus berkembang mengikuti perjalanan bangsa dan pengalaman pengarangnya. (Asatunews.id: “Tiga Menko dan Sejumlah Tokoh Hadiri Peluncuran Buku Terbaru Bamsoet ke-38 dan Buku Perjalanan Panjang Bamsoet Karya Wartawan Senior J.Osdar”, Jumat 11 September 2026)

Skip to PDF content
Oleh:
Diposting pada:
Dilihat:17

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *